KEPITING (KOLABORASI, EDUKASI DAN PENDAMPINGAN INTENSIF TURUNKAN STUNTING)

Stunting sangat berdampak pada kesehatan, dampak yang terjadi adalah kondisi gagal tumbuh ( pendek ), gangguan metabolik pada saat dewasa (resiko penyakit tidak menular seperti, diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung), hambatan perkembangan (kognitif dan motorik). Hambatan perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan. Kondisi ini diperkirakan dapat menurunkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 3 persen per tahun (World Bank, 2014). Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa aspek utama yaitu : Sanitasi (air Bersih, Jamban, dan cuci tangan), Pola Asuh (ASI, MPASI, Imunisasi, Pemantauan Tumbuh Kembang), Pola Makan (sesuai gizi seimbang dengan makanan beraneka ragam karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) Wakil Presiden Republik Indonesia memimpin Rapat Koordinasi Tingkat Menteri untuk pencegahan stunting pada tanggal 12 Juli 2017. Rapat tersebut memutuskan bahwa pencegahan stunting penting dilakukan dengan pendekatan multi-sektor melalui sinkronisasi program-program nasional, lokal, dan masyarakat. Pada Rapat Koordinasi Tingkat Menteri tanggal 9 Agustus 2017 ditetapkan beberapa hal penting, yaitu: (1) Lima Pilar Pencegahan Stunting; (2) Kementerian/Lembaga penanggungjawab upaya percepatan pencegahan stunting; (3) Wilayah prioritas; (4) Strategi intervensi pencegahan stunting; dan (5) penyiapan strategi kampanye nasional. Prosentase stunting di Kecamatan Juwangi pada Tahun 2021 sebesar 11 % (258 kasus). Prosentase ibu hamil KEK 11 % ( 49 kasus ) dan anemia sebesar 19 % (84 kasus). Kasus BBLR sebanyak 13 kasus dengan dilatar belakangi dari ibu hamil KEK sebanyak 3 kasus , ibu hamil anemia sebanyak 1 kasus dan ibu hamil normal sebanyak 9 kasus. Sedangkan bayi lahir resiko stunting berasal dari ibu hamil KEK sebanyak 8 kasus, ibu hamil anemia sebanyak 10 kasus dan ibu hamil normal sebanyak 33 kasus. Karena tingginya kasus stunting maka Puskesmas Juwangi membuat sebuah inovasi yang bernama Kolaborasi Edukasi dan Pendampingan Intensif Stunting (KEPITING). Dengan adanya inovasi tersebut diharapkan bisa mengatasi dan menurunkan angka stunting di Kecamatan Juwangi
a. Meningkatkan pengetahuan orang tua balita dalam memutus mata rantai penyebab stunting. b. Meningkatkan pengetahuan ibu hamil dalam memutus mata rantai penyebab stunting. c. Meningkatkan pengetahuan kader pendamping dalam memutus mata rantai penyebab stunting.
menurunkan angka stunting baik daerah mapun nasional, meningkatnya pengetahuan orang tua balita dan dapat memutus rantai penyebab stunting
hasil dari kegiatan kepiting yang diperoleh, balita stunting di pantau oleh kader kesehatan yang sudah dilatih selama kurun waktu kurang lebih 3 bulan. pemantauan menu makanan balita stunting dilaksanakan setiap hari dan di lakukan pencatatan, sehingga dapat di pantau perkembangan balita stunting