A. Dasar Hukum
Inovasi yang dikembangkan oleh SMP Negeri 1 Boyolali dalam melakukan penguatan karakter profil pelajar pancasila adalah:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
3. Permendikbud Nomor 5 Tahun 2022 Standar Kompetensi Lulusan – SKL
4. Permendikbud Nomor 7 Tahun 2022 Standar Isi – SI
5. Kepmen 371 Tahun 2021 Tentang PSP
6. Keputusan Kepala BSKAP Nomor 009/H/KR/2022 Tentang Dimensi dan Elemen Profil Pelajar Pancasila Pada Kurikulum Merdeka
7. Permendikbud Nomor 16 Tahun 2022 Tentang Standar Proses
8. Permendikbud Nomor 21 Tahun 2022 Tentang Standar Penilaian
9. Peraturan Daerah Nomor 17 tahun 2021 tentang Inovasi Daerah
10. Peraturan Bupati Nomor 77 Tahun 2022 tentang Pentunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 17 Tahun 2021 tentang Inovasi Daerah.
11. Peraturan Bupati Nomor 72 Tahun 2023 Platform Satu Data Inovasi Boyolali Melalui Aplikasi Boyolali Innovation System Management of Research and Technology di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Boyolali
12. Surat Keputusan Bupati Nomor 050/50 Tahun 2018 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Penguatan Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Boyolali
13. Surat Edaran Bupati Nomor 050/143 Tahun 2019 tentang Penetapan Roadmap Penguatan Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Boyolali
14. Surat Edaran Bupati Nomor 2368 Tahun 2023 tentang Budaya Inovasi di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Boyolali
15. Surat Edaran Sekda Nomor 04553 Tahun 2023 tentang Implementasi Surat Edaran Bupati Nomor 2368 Tahun 2023 tentang Budaya Inovasi di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Boyolali
16. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Rev Juni 22
17. Panduan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila P5 Rev. Juni 22
B. Permasalahan
Hal yang melatarbelakangi SMP Negeri 1 Boyolali mengadakan kegiatan Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) sebagai sarana revolusi mental siswa adalah:
1. Krisis Moralitas: Akhir-akhir ini, dunia pendidikan mengalami keresahan dengan munculnya pemberitaan mengenai tiga dosa besar pendidikan, diantaranya banyaknya kasus perundungan (bullying), pelecehan seksual, dan intoleransi. Hal ini tentu saja menunjukkan adanya krisis moralitas di kalangan remaja
2. Rendahnya Kesadaran akan Nilai-Nilai Etika: Seringkali, siswa kurang memiliki kesadaran akan pentingnya nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari sopan santun siswa dalam berbicara, bersikap, dan bermedia sosial.
3. Kurangnya Empati dan Keterampilan Sosial: Kurangnya empati dan keterampilan sosial dapat menghambat kemampuan siswa dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik dengan orang lain seperti kenakalan remaja, tindakan kekerasan, hingga penyalahgunaan narkoba.
4. Tekanan Peer Group yang Negatif: Seringkali, siswa terpengaruh oleh tekanan dari lingkungan sekitarnya, terutama dari teman sebaya (peer group), untuk melakukan perilaku-perilaku negatif atau melanggar norma-norma sosial.
5. Krisis Identitas dan Pemahaman Budaya: Beberapa siswa mungkin mengalami krisis identitas atau kesulitan dalam memahami nilai-nilai budaya dan kebangsaan. Misalnya penyimpangan perilaku yang berdampak pada nama baik diri, keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dari berbagai permasalahan tersebut, perlu adanya sebuah inovasi yang bertujuan untuk menguatkan karakter sesuai profil pelajar Pancasila melalui kegiatan Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) sebagai sarana revolusi mental siswa.
C. Isu Strategis
Isu strategis yang melatarbelakangi kami membuat inovasi ini adalah:
1. Teknologi dan Digitalisasi: Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah membawa dampak yang signifikan pada kehidupan anak-anak dan remaja. Siswa sering terpapar pada konten-konten yang tidak sesuai, seperti konten kekerasan, pornografi, atau radikalisme. Kegiatan penguatan karakter ini diharapkan dapat membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan etis.
2. Peningkatan Mobilitas dan Globalisasi: Globalisasi telah meningkatkan interaksi antarbudaya dan menghadirkan tantangan baru dalam memahami dan menghargai keragaman budaya. Siswa perlu dilengkapi dengan pemahaman yang kuat tentang toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan multikultural.
3. Perubahan Sosial dan Ekonomi: Perubahan sosial dan ekonomi, seperti urbanisasi, perubahan struktur keluarga, dan ketimpangan ekonomi, dapat memengaruhi kesejahteraan sosial dan psikologis siswa. Kegiatan penguatan karakter dapat membantu siswa mengatasi stres, mengembangkan ketahanan mental, dan membangun kemampuan untuk menghadapi perubahan dan tantangan hidup.
4. Krisis Lingkungan dan Kebangkitan Gerakan Sosial: Krisis lingkungan seperti perubahan iklim dan kerusakan lingkungan semakin menjadi perhatian global. Gerakan sosial seperti gerakan hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan keadilan sosial juga semakin berkembang. Siswa perlu dilengkapi dengan pemahaman yang baik tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan serta kemampuan untuk menjadi agen perubahan yang positif dalam masyarakat.
5. Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Emosional: Masalah kesehatan mental seperti stres, depresi, dan kecemasan semakin umum terjadi di kalangan remaja. Kegiatan penguatan karakter dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan kesehatan mental, seperti manajemen emosi, penanganan stres, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Dengan memperhatikan isu-isu strategis ini, kegiatan Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) sebagai sarana revolusi mental siswa diharapkan membantu siswa mengembangkan keterampilan, nilai, dan sikap yang diperlukan untuk menghadapi dan menyiapkan pemimpin-pemimpin peradaban bangsa yang berkarakter.
D. Metode pembaharuan
Sebelum adanya inovasi ini, penguatan karakter di SMP Negeri 1 Boyolali hanya dilakukan melalui:
1. Pendidikan Karakter Terintegrasi: Memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah secara terintegrasi dalam setiap mata pelajaran. Guru mengaitkan konsep-konsep karakter dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari, sehingga siswa dapat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut secara lebih baik.
2. Model Pembelajaran Berbasis Proyek: Menggunakan model pembelajaran berbasis proyek di mana siswa diberikan proyek-proyek yang menantang dan membutuhkan kerjasama, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Melalui proyek-proyek ini, siswa dapat belajar tentang nilai-nilai seperti kerjasama, tanggung jawab, dan kejujuran.
3. Pembelajaran Aktif dan Kolaboratif: Mendorong pembelajaran aktif dan kolaboratif di mana siswa aktif terlibat dalam diskusi, permainan peran, simulasi, dan kegiatan kelompok. Metode ini dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial, kepemimpinan, dan kerjasama tim.
4. Pembinaan wali kelas : Membantu siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kelas.
E. Kebaharuan
Kebaruan dari inovasi Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) sebagai sarana revolusi mental ini mengadopsi kurikulum yang berbasis masalah di mana siswa diberikan tantangan atau masalah nyata untuk diselesaikan, yang memungkinkan mereka untuk mengaplikasikan nilai-nilai karakter dalam konteks kehidupan nyata. Pendekatan ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan membantu mereka menginternalisasi nilai-nilai karakter dengan lebih baik.
Selain itu inovasi ini memanfaatkan asset sumber daya sekolah dan daerah dengan membangun kemitraan seperti wali murid, dinas, dan berbagai pemangku kepentingan. Berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan kegiatan Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) sebagai sarana revolusi mental yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh siswa di masa depan. Kemitraan ini dapat memberikan pengalaman praktis yang berharga bagi siswa dan membantu mereka mengembangkan keterampilan serta sikap yang diperlukan sekarang dan di masa yang akan datang.
Kegiatan ini juga menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman, di mana siswa terlibat dalam aktivitas atau simulasi langsung yang memungkinkan mereka untuk merasakan dan memahami nilai-nilai karakter secara langsung. Pendekatan ini dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan melekat dalam memperkuat karakter siswa.
Inovasi Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) sebagai sarana revolusi mental menggunaka pendekatan multikultural dan multikeagamaan sehingga dapat membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kerjasama lintas budaya.
Inovasi ini juga menggunakan pendekatan holistik dan terintegrasi. Kegiatan ini memperhitungkan berbagai aspek kehidupan siswa, termasuk aspek akademis, sosial, emosional, dan fisik sehingga membantu membangun siswa secara menyeluruh sebagai individu yang berkarakter profil pelajar Pancasila.
F. SOP Inovasi
1. Perencanaan Program:
a. Identifikasi tujuan dan sasaran program penguatan karakter profil pelajar pancasila.
b. Bentuk tim kerja yang terdiri dari guru, staf, dan pihak terkait lainnya.
c. Tentukan waktu pelaksanaan program dan jadwal kegiatan.
d. Rencanakan anggaran dan sumber daya yang dibutuhkan.
e. Penyusunan Materi dan Kurikulum:
2. Tentukan materi-materi yang akan diajarkan dalam kegiatan Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) dan nilai-nilai karakter yang akan ditekankan.
a. Sesuaikan materi dengan kurikulum sekolah dan kebutuhan siswa.
b. Siapkan materi pembelajaran yang menarik dan interaktif.
3. Implementasi Kegiatan:
a. Sosialisasikan program kepada siswa, orang tua, dan staf sekolah.
b. Lakukan kegiatan dengan metode yang telah direncanakan, seperti diskusi, permainan peran, atau simulasi.
c. Libatkan siswa dalam kegiatan Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) yang berorientasi pada karakter
d. Jalin kerjasama dengan wali murid, dinas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung kegiatan penguatan karakter profil pelajar Pancasila.
4. Evaluasi dan Monitoring:
a. Evaluasi keberhasilan program Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) secara berkala dengan mengukur pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
b. Lakukan survei atau kuesioner untuk mengukur persepsi siswa, orang tua, dan staf terkait efektivitas program Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter).
c. Monitor partisipasi siswa dan dampaknya terhadap perilaku dan prestasi akademik mereka.
d. Lakukan perbaikan atau penyesuaian program berdasarkan hasil evaluasi dan umpan balik yang diterima.
5. Pelaporan dan Dokumentasi:
a. Dokumentasikan semua kegiatan dan hasil program secara lengkap.
b. Buat laporan berkala yang mencakup evaluasi, perkembangan, dan hasil program.
c. Presentasikan laporan kepada pihak terkait, seperti kepala sekolah, guru, dan orang tua.
d. Simpan dokumen dan catatan terkait kegiatan Jumpa better (Jumat Pagi Penguatan Karakter) untuk referensi dan penggunaan di masa mendatang.