GEPREK ASPIRIN (Gerakan Eradikasi Pre Eklamsia dengan program ASPIRIN)

Gerakan Eradikasi Pre eklamsia adalah sebuah program dalam upaya akselerasi penurunan angka kejadian pre eklamsia pada kehamilan, persalinan dan nifas serta penanganan secara komprehensif pada kejadian serangan pre eklamsia, di mana program ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu yang secara khusus untuk mengawal ibu hamil resiko tinggi Pre eklamsia agar bisa melahirkan dan melalui masa nifas dengan aman dan selamat. A : ASPILET untuk ibu hamil resti ( pemeriksaan ke dokter / Spog pd TM I dan pemberian aspilet sebelum umur 16 minggu – 36 mgg). S : Sosialisasi Eradikasi Pre Ekalmsia ( sos Tk Kecamatan dan tk desa). P : Pendampingan Resti ( ibu hamil resti di kawal selama kehamilan). I : Ikut libatkan keluarga, tetangga, Toma dalam pengawasan ibu hamil resti. R : Rangkul LINSEK untuk membantu pengawasan dan siaga Pre eklamsia. I : Ikuti Kelas ibu hamil Resti ( semua resti di buatkan kelas tk Puskesmas). N : No Telp / HP ( di bentuknya grup wa Ibu hamil/ resti sehingga ada koomunikasi antara ibu hamil resti dan bidan desa). ogram ini dilaksanakan secara terintegrasi, melibatkan lintas program dan lintas sektor mulai dari hulu sampai hilir, dimana terdapat potensi terjadinya kasus preeklamsia. Untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat preeklamsia diharapkan sejak sebelum proses kehamil itu berlangsung, dimana faktor risiko yang menyebabkan munculnya preeklamsiasudah dapat dideteksi secara dini. Melalui program ini pula, masyarakat akan mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang deteksi dini dan penanganan awal apabila saat kehamilan menjumpai tanda-tanda preeklamsia. Intervensi dari hulu dilaksanakan pada sasaran calon pengantin dengan melakukan konseling pelayanan kesehatan pranikah, dilanjutkan skrining awal faktor risiko tinggi kehamilan dan faktor risiko preeklamsia. Pada saat awal kehamilan dilakukan skrining faktor risiko tinggi kehamilan dan faktor risiko khusus preeklamsia, untuk kemudian diberikan intervensi secepatnya guna mencegah timbulnya preeklamsia. Tidak kalah penting terkait program eradikasi preeklamsia, adalah pendampingan pada ibu hamil yang memiliki faktor risiko tinggi preeklamsia melalui optimalisasi kelas bumil risti, dengan harapan dapat memantau kondisi bumil baik secara langsung dan tidak langsung, secara periodik dan kontinyu. Penatalaksanaan yang tepat dan sistem rujukan yang baik berperan penting dalam penurunan komplikasi preeklamsia. Program ini menjangkau di pelayanan FKTP dan FKRTL, serta pengawasan masa nifas secara ketat (khususnya pada kelompok risiko tinggi dan faktor risiko preeklamsia) melalui sistem rujuk balik yang komunikatif dan efektif.
Menurunkan angka kematian ibu hamil.
1. Ibu hamil resiko tinggi dapat di deteksi dari awal. 2. Ibu hamil resiko tinggi dapat menjalani kehamilan, persalinan dan nifas dengan aman dan selamat. 3. Terdapat komunikasi antar ibu hamil, tenaga kesehatan dan linsek.
1. Setelah pelaksanaan inovasi, pemeriksaan dokter / spesialis kandungan menjadi wajib 2 x (di TM 1 1x, TM3 1x). 2. Ibu hamil, keluarga , tetangga, tokoh masyarakat, perangkat desa dan lintas sektor terkait lainnya sudah mulai mengerti tentang PE ( bahaya, pencegahan dan penanganannya). 3. Ibu hamil resti mulai di pantau lebih ketat oleh kader atau bidan desa baik melalui kunjungan rumah ataupun lewat wa. 4. Meningkatkan dan melibatkan orang terdekat dr ibu hamil resti baik , kader, keluarga, tetangga, toma dalam mengawasi ibu hamil resti dan melaporkan segera ke bidan desa jika di temukan masalah pd ibu hamil resti tersebut. 5. Lintas sektor bersedia memfasilitasi sarana prasarana yang sekiranya di butuhkan oleh masyarakat khusunya ibu hamil resti dalam memudahkan mendapatkan pelayanan melalui penggerakan linsek di desa. 6. Kelas ibu resti sudah terbentuk dan sudah terlaksana. 7. Program ASPIRIN berjalan rutin, Ibu hamil resiko PE selalu berkomunikasi dg pihak terkait dan dapat tenang dalam menjalani kehamilan, persalinan dan nifas yang aman. 8. Sudah terbentuk grub wa ibu hamil sehingga ibu hamil bisa saling sharing dengan fasilitator bidan desa.