A. Dasar Hukum
Inovasi yang dikembangkan oleh SMP Negeri 1 Boyolali dalam Kegiatan Pemanfaatan Simulasi PhET Dalam Pembelajaran IPA adalah:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
3. Permendikbud Nomor 5 Tahun 2022 Standar Kompetensi Lulusan – SKL
4. Permendikbud Nomor 7 Tahun 2022 Standar Isi – SI
5. Kepmen 371 Tahun 2021 Tentang PSP
6. Keputusan Kepala BSKAP Nomor 009/H/KR/2022 Tentang Dimensi dan Elemen Profil Pelajar Pancasila Pada Kurikulum Merdeka
7. Permendikbud Nomor 16 Tahun 2022 Tentang Standar Proses
8. Permendikbud Nomor 21 Tahun 2022 Tentang Standar Penilaian
9. Peraturan Daerah Nomor 17 tahun 2021 tentang Inovasi Daerah
10. Peraturan Bupati Nomor 77 Tahun 2022 tentang Pentunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali Nomor 17 Tahun 2021 tentang Inovasi Daerah.
11. Peraturan Bupati Nomor 72 Tahun 2023 Platform Satu Data Inovasi Boyolali Melalui Aplikasi Boyolali Innovation System Management of Research and Technology di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Boyolali
12. Surat Keputusan Bupati Nomor 050/50 Tahun 2018 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Penguatan Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Boyolali
13. Surat Edaran Bupati Nomor 050/143 Tahun 2019 tentang Penetapan Roadmap Penguatan Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Boyolali
14. Surat Edaran Bupati Nomor 2368 Tahun 2023 tentang Budaya Inovasi di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Boyolali
15. Surat Edaran Sekda Nomor 04553 Tahun 2023 tentang Implementasi Surat Edaran Bupati Nomor 2368 Tahun 2023 tentang Budaya Inovasi di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Boyolali
16. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah Tahun 2022
B. Permasalahan
Hal yang melatarbelakangi SMP Negeri 1 Boyolali melaksanakan Kegiatan Pemanfaatan PhET simulasi dalam pembelajaran IPA adalah:
1. Implementasi kurikulum merdeka yang diterapkan pada satuan pendidikan dalam rangka pemulihan pembelajaran menuntut peserta didik untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Fokus implementasi kurikulum merdeka adalah pemanfaatan teknologi dan komunitas belajar untuk saling berbagi praktik baik.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat termasuk teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mewajibkan peserta didik mampu mengembangkan sikap kreatifnya agar mampu bersaing di lingkup global.
3. Adanya pergeseran paradigma belajar abad ke-21 yaitu pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu. Untuk menghadapi pembelajaran abad 21, peserta didik dituntut memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi media, serta menguasai teknologi informasi dan komunikasi.
4. Kegiatan pembelajaran IPA secara bertahap memperkenalkan tiga kegiatan terpadu melalui pembelajaran teori dan praktikum. Terbatasnya kegiatan praktikum di dalam laboratorium karena berbagai factor berdampak rendahnya pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran IPA.
5. Rendahnya minat belajar peserta didik pada pelajaran IPA khususnya fisika, karena guru belum maksimal memanfaatkan media pembelajaran
6. Rendahnya hasil belajar atau penguasaan pelajaran IPA khususnya fisika, peserta didik menganggap IPA fisika adalah mata pelajaran yang sulit, identic dengan rumus sehingga sulit untuk dipahami dan kurang menarik untuk dipelajari.
C. Isu Strategis
Isu strategis yang melatarbelakangi kami membuat inovasi ini adalah:
1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat juga mempengaruhi perkembangan media pembelajaran berbasis komputer dalam dunia pendidikan. Media pembelajaran tersebut dapat berupa buku elektronik (ebook), video animasi, video interaktif, slide power point, berbagai program flash hingga laboratorium virtual. Dengan adanya media pembelajaran tersebut, informasi kepada peserta didik dalam proses belajar mengajar sangat bermanfaat bagi pendidik.
2. SDM yang berkualitas unggul dan berdaya saing tinggi
SDM yang unggul harus dibentuk sejak dini, melalui pendidikan baik formal maupun non formal. Untuk menjadi SDM yang unggul peserta didik harus memiliki sifat yang cerdas, adaftif, kreatif, inovatif, terampil dan juga bermartabat. Selain itu peserta didik juga harus mau dan mampu bekerja sama tim atau teamwork.
3. Tantangan global era revolusi 4.0
Kemunculan revolusi industri 4.0 telah mengubah banyak hal di semua sektor, yang pada awalnya membutuhkan banyak pekerja untuk mengoperasionalkan sekarang digantikan dengan penggunaan mesin teknologi termasuk juga dalam sektor pendidikan. Pendidikan 4.0 merupakan istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara mengintegrasikan teknologi baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Dengan adanya pandemi Covid-19 kita baru menyadari betapa pentingnya penerapan teknologi dalam pendidikan.
Untuk dapat menjadi bangsa yang maju, kita harus dapat beradaptasi dengan semua perubahan yang ada. SDM yang berkualitas utamanya generasi milenial diharapkan tidak hanya menjadi pengguna yang pasif. Peserta didik diharuskan juga memahami penggunaan teknologi yang menunjang keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, tidak hanya sosial media saja.
4. Pendidik yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital
Pendidik harus selalu mengupdate dirinya, baik perkembangan pendidikan 4.0 maupun perkembangan teknologi. Pendidik yang mengerti dan menguasai teknologi digital akan memudahkan mentrafsfer ilmunya melalui kegiatan belajar mengajar
Berdasarkan isu-isu strategis tersebut, KepePhET (Kegiatan Pemanfaatan Simulasi PhET Dalam Pelajaran IPA) sebagai media pembelajaran interaktif, diharapkan dapat meningkatkan minat belajar IPA. Dengan meningkatnya minat belajar maka pemahaman materi diharapkan juga meningkat, yang pada akhirnya hasil belajar atau penguasaan materi IPA juga meningkat.
D. Metode pembaharuan
Sebelum melakukan inovasi ini, peserta didik hanya hapat melakukan praktikum di dalam laboratorium yang memerlukan waktu cukup lama untuk persiapan sampai merangkai peralatan agar dapat digunakan. Praktikum juga hanya dapat dilakukan ketika mendapat giliran menggunakan laboratorium. Karena jumlah laboratorium yang terbatas dan harus dipakai secara bergantian oleh semua guru IPA yang lainnya.
Simulasi PhET (Physics Education Tecnology) adalah aplikasi open source berbasis teknologi modern berupa perangkat lunak yang dapat mempermudah memahami suatu materi baik oleh guru maupun peserta didik. Aplikasi ini dapat membantu guru dan peserta didik melakukan praktikum di dalam laboratorium virtual. Dalam aplikasi simulasi PhET terdapat berbagai macam percobaan yang dapat dipilih. Mulai materi fisika, biologi, kimia, matematika dan ilmu kebumian. Aplikasi ini dapat dimanfaatkan secara gratis karena berbasis web oleh guru dan peserta didik. Kelebihan lain dari simulai PhET ini dapat didownload sehingga dapat dimanfaatkan meskipun tidak ada jaringan internet.
Simulasi PhET dapat langsung dimanfaatkan secara online menggunakan laptop/computer/gawai maupun secara offline. Apabila dimanfaatkan secara online maka cukup membuka browser kemudian mengetik https://phet.colorado.edu/en/ atau https://phet.colorado.edu/in/
Apabila simulasi akan dimanfaatka secara offline maka materi simulasi yang akan dipelajari didownload terlebih dahulu. Dengan car aini, simulasi dapat dimanfaatkan dimanapun kita berada dan kapan pun tanpa terkendala jaringan internet.
Melalui inovasi pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA ini, kegiatan praktikum tidak lagi tergantung pada waktu dan tempat. Guru dan peserta didik dapat memanfaatkannya kapan pun dan di manapun. Simulasi PhET dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sehingga tercipta pembelajaran yang efektif. Simulasi PhET akan lebih efektif bila diterapkan melalui pendekatan inkuiri terbimbing, karena membantu peserta didik belajar atau mencari informasi tentang fenomena atau kejadian fisika melalui penggunaan ilustrasi yang mudah dipahami dan menarik Simulasi PhET juga dapat dilakukan secara berulang-ulang secara mandiri bilamana perlu, karena sudah tersedia dalam bahasa Indonesia.
E. Kebaruan
Kegiatan praktikum dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali tidak lagi terbatas pada waktu dan tempat. Simulasi PhET dapat ditautkan pada Google Classroom pada Menu Tugas. Dengan memasukkan link pada menu Tugas maka semua peserta didik dapat langsung mengakses menu tersebut. Agar proses pembelajaran lebih efektif maka peserta didik dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dikerjakan secara berkelompok. Dengan demikian guru menerapkan strategi pembelajaran secara inkuiri terbimbing. Guru dapat membimbing kelompok yang mungkin mengalami kendala baik secara teknis maupun materi.
Dengan adanya simulasi PhET ini dapat dijadikan alternatif penunjang sarana prasarana laboratorium di sekolah. Apabila guru dan peserta didik ingin melakukan percobaan IPA tetapi terkendala keterbatasan alat dan waktu, maka simulasi PhET dapat menjadi solusi dari masalah tersebut. Simulasi PhET atau laboratorium virtual ini dapat membantu peserta didik memahami materi IPA, serta membantu guru dalam menjelaskan konsep materi kepada peserta didik.. Tentu ini akan sangat memudahkan sekali dalam proses belajar mengajar.
F. SOP Inovasi
1. Perencanaan Kegiatan
a. Mengidentifikasi tujuan dan sasaran program inovasi KepePhET
b. Membentuk tim yang melaksanakan kegiatan
c. Menentukan waktu pelaksanaan kegiatan
d. Menentukan kelas yang akan menjadi sasaran
e. Merencanakan anggaran dan sumber daya yang diperlukan
2. Menentukan materi yang akan diajarkan dalam inovasi KepePhET
a. Menentukan materi yang akan diajarkan, disesuaikan dengan kurikulum dan kebutuhan peserta didik
b. Menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
3. Implementasi Kegiatan
a. Mensosialisasikan program kepada peserta didik, orang tua/wali dan pendidik lainnya
b. Melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan simulasi PhET
c. Melibatkan semua peserta didik untuk aktif dan saling berkolaborasi dalam kelompok
4. Monitoring dan Evaluasi
a. Memonitor keterlibatan dan keaktifan semua peserta didik
b. Memonitor keterisian LKPD
c. Memberikan umpan balik atas materi yang telah dipelajari peserta didik
d. Mengevaluasi keterlaksanaan KepePhET
e. Melakukan perbaikan atau penyesuaian apabila ada kendala yang dihadapi peserta didik
f. Melakukan survey untuk mengetahui seberapa besar minat dan pemahaman peserta didik tentang materi yang telah dipelajari
5. Pelaporan dan Dokumentasi
a. Mendokumentasikan semua kegiatan dan hasilnya secara lengkap
b. Membuat laporan pelaksanaan kegiatan
c. Membagikan praktik baik kepada rekan sejawat
d. Simpan dokumen
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA memiliki beberapa tujuan yang sangat penting, yaitu untuk:
1. Meningkatkan pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks di antara peserta didik. Simulasi ini memungkinkan peserta didik untuk mengalami konsep-konsep tersebut secara langsung melalui interaksi virtual, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman dengan cara yang lebih nyata dan terukur.
2. Meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Pengalaman belajar yang interaktif dan menarik melalui simulasi PhET dapat merangsang rasa ingin tahu peserta didik dan menginspirasi mereka untuk menjelajahi lebih jauh dalam materi IPA. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan positif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan prestasi hasil belajar dan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.
3. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Dengan memperhatikan berbagai fenomena dan eksperimen dalam simulasi, peserta didik diajak untuk mengamati, menganalisis data, dan membuat kesimpulan logis. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang esensial untuk pemecahan masalah di dunia nyata.
4. Mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan global yang semakin kompleks di bidang IPA. Dengan mengintegrasikan teknologi simulasi PhET dalam pembelajaran, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep IPA, tetapi juga mengembangkan keterampilan digital yang krusial untuk sukses di era modern yang semakin terkoneksi secara teknologi.
Kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA
memanfaatkan simulasi PhET menawarkan sejumlah manfaat yang penting bagi perkembangan peserta didik. Manfaat tersebut antara lain:
Kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA
memanfaatkan simulasi PhET menawarkan sejumlah manfaat yang penting bagi perkembangan peserta didik. Manfaat tersebut antara lain:
1. Penggunaan simulasi PhET memungkinkan peserta didik untuk mengalami eksperimen yang realistis tanpa harus menggunakan peralatan fisik yang mahal atau berpotensi berbahaya. Hal ini membuat mereka dapat mengembangkan keterampilan observasi, analisis, dan eksperimen secara aman dan efektif.
2. Simulasi PhET memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjelajahi konsep-konsep IPA yang kompleks dengan cara yang lebih interaktif dan menarik. Hal ini dapat membantu mereka menginternalisasi konsep-konsep tersebut dengan lebih baik daripada pembelajaran yang bersifat pasif.
3. Simulasi PhET juga memfasilitasi diferensiasi instruksional yang lebih efektif. Guru dapat menggunakan berbagai simulasi yang tersedia untuk mengakomodasi gaya belajar yang berbeda di antara peserta didik. Misalnya, peserta didik yang lebih visual dapat belajar melalui simulasi sementara peserta didik yang lebih auditif dapat memperdalam pemahaman mereka melalui penjelasan verbal dari guru
4. Penggunaan simulasi PhET juga mendorong kolaborasi antar peserta didik. Mereka dapat bekerja sama untuk menjawab pertanyaan, mencoba eksperimen, dan memecahkan masalah dalam lingkungan yang mendukung kerja tim. Hal ini membantu mengembangkan keterampilan sosial dan kolaboratif yang penting untuk kesuksesan di dunia nyata.
5. Simulasi PhET juga memungkinkan guru untuk memberikan umpan balik yang lebih tepat waktu dan mendalam kepada peserta didik. Guru dapat melacak kemajuan peserta didik, mengidentifikasi kesulitan yang mereka hadapi, dan memberikan bantuan yang dibutuhkan secara langsung.
Dengan demikian, pembelajaran IPA di SMP yang memanfaatkan simulasi PhET tidak hanya mengoptimalkan pemahaman peserta didik terhadap materi, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mereka melalui interaksi yang dinamis dan relevan dengan teknologi modern.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.
Inovasi kegiatan pemanfaatan simulasi PhET dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Boyolali telah memberikan hasil yang signifikan dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan peserta didik dalam berbagai aspek pembelajaran. Hasil tersebut berupa:
1. Meningkatnya pemahaman konsep-konsep IPA yang kompleks. Melalui pengalaman interaktif dengan simulasi PhET, peserta didik dapat mengalami secara langsung bagaimana konsep-konsep tersebut bekerja dalam konteks yang nyata, sehingga membantu mereka memperdalam pemahaman secara lebih mendalam.
2. Meningkatnya minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap IPA. Simulasi PhET yang menarik memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksplorasi mandiri, sehingga merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas peserta didik. Dengan demikian, peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih terlibat dalam proses pemahaman materi IPA.
3. Meningkatnya perkembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis peserta didik. Ketika berinteraksi dengan simulasi PhET, peserta didik diajak untuk mengamati fenomena, mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan membuat kesimpulan. Hal ini membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
4. Meningkatnya pengembangan keterampilan digital peserta didik. Melalui penggunaan teknologi simulasi PhET, peserta didik belajar untuk berinteraksi dengan perangkat lunak simulasi dan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia. Hal ini tidak hanya membantu mereka menguasai keterampilan teknologi, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tuntutan dunia modern yang semakin terkoneksi secara digital.