Kurang optimalnya pelaksanaan layanan peminjaman arsip di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kabupaten Boyolali
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Boyolali merupakan salah satu instansi pemerintahan yang melakukan pelayanan kepada publik, salah satunya adalah layanan peminjaman arsip. Layanan peminjaman arsip belum dilakukan secara efektif dan efisien, hal
tersebut dikarenakan sistem pemberkasan belum disimpan berdasarkan permasalahan. Selain itu, belum adanya daftar arsip yang dapat membantu mempercepat dalam temu kembali.
b. Belum adanya kebijakan terkait pengelolaan arsip secara digital di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Boyolali
Kebijakan pengelolaan arsip secara digital merupakan tombak utama yang menjadi dasar kegiatan. Dengan adanya SOP dan alur, maka pengelolaan arsip terlaksana berurutan dan terstruktur. Dalam pelaksanaan pengelolaan arsip secara digital di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Boyolali belum terdapat kebijakan seperti SOP dan alur.
c. Terabaikan pemberkasan arsip di unit pengolah (bidang)
Pemberkasan arsip merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengelolaan arsip. Arsip yang masuk ke unit pengolah (bidang) akan diolah kemudian diberkaskan. Pemberkasan yang ada di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Boyolali masih berdasarkan waktu arsip tersebut datang. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap temu balik arsip. Temu balik arsip menjadi tidak efektif dan efisien sehingga membutuhkan waktu lama untuk menemukannya. Pemberkasan arsip sebaiknya dilakukan berdasarkan permasalahannya, jadi arsip akan memberkas menjadi satu. Apabila arsip sudah diberkaskan berdasarkan permasalahan tentunya akan mempermudah dalam penemuan kembali ketika akan diperlukan.
d. Masih manualnya sistem pemberkasan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Boyolali
Sistem pemberkasan yang ada di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Boyolali masih dilakukan secara manual, yaitu dengan menggunakan filling cabinet sebagai sarana penyimpanannya. Pada saat ini sistem digitalisasi memberikan banyak manfaat salah satunya dalam bidang kearsipan. Pemberkasan arsip secara digital sangat disarankan karena dapat membantu temu balik dalam layanan peminjaman arsip bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
e. Belum optimalnya pengelolaan arsip inaktif retensi lebih dari 10 tahun di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan
Arsip inaktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya telah menurun. Arsip yang frekuensi penggunaannya telah menurun kemudian dilakukan penilaian untuk menentukan keberlangsungan arsip tersebut, apakah berketerangan permanen untuk tetap disimpan di unit pengolah atau berketerangan musnah untuk selanjutnya dilakukan pemusnahan. Pengelolaan arsip inaktif di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Boyolali belum maksimal dilakukan karena antara lain; adanya pekerjaan ganda petugas pengelola arsip, dan belum adanya kebijakan pengelolaan arsip
inaktif. Pengelolaan arsip inaktif seharusnya dilakukan secara maksimal karena akan berdampak pada penumpukan arsip.
Dampak Apabila Isu Tidak Diselesaikan
1. Tidak adanya digitalisasi arsip dalam kegiatan pemberkasan arsip di unit pengolah.
2. Arsip tertata tidak memberkas sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam pencarian arsip.
3. Pengelolaan arsip tidak sesuai dengan Norma Standar Prosedur Kriteria Kearsipan.
4. Layanan temu balik arsip tidak efektif dan efisien
Selanjutnya akan dilakukan 6 (enam) kegiatan, antara lain;
1. Melakukan identifikasi arsip;
2. Melakukan pembuatan draft SOP dan alur pemberkasan arsip secara digital;
3. Melakukan kegiatan pemberkasan arsip tekstual berdasarkan permasalahan;
4. Melakukan studi banding;
5. Melakukan kegiatan digitalisasi pemberkasan arsip dengan media google drive;
Tujuan Inovasi Daerah adalah untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Manfaat yang diperoleh adalah mempermudah dalam penemuan kembali karena sudah dilakukan digitalisasi arsip
Hasil Inovasi adalah digitalisasi arsip dan daftar arsip